Ekonomi Syariah Bukan Alternatif
Oleh Rocky Marciyano
10 Januari 2009
Cukuplah sudah kita dengan bencana-bencana yang Allah turunkan akibat interaksi kita dengan hal-hal ribawi. Sudah saatnya bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini tidak menjadikan ekonomi syariah sebagai alernatif tapi menjadikannya sebagai pilihan satu-satunya.
Kalimat tersebut meluncur dari bibir Ahmad Iqbal. Alumni IPB Bogor ini sehari-hari berkantor di sekretariat MES, Gedung Arthaloka, Jakarta ini adalah mendapat amanah dari Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sebagai Direktur Eksekutif.
MES pada 23 Desember 2008 lalu melantik jajaran kepengurusannya untuk masa tiga tahun kedepan setelah amanah ketua umum beralih dari Aries Muftie ke Mulyaman D. Hadad.
MES kini telah memasuki usia sewindu. Menurut Iqbal, lembaga ini mengalami banyak kemajuan sejak pertama kali didirikan. Jumlah anggota terus bertambah dan makin banyak kepengurusan baru di daerah yang berdiri.
Soal program kepengurusan baru, Iqbal belum banyak berkomentar. "Program baru akan dipublikasikan setelah acara Rakernas MES 24 Januari besok," ujarnya singkat.
Namun dia menambahkan diantara program-program rutin yang kini masih berjalan adalah diskusi dunia maya lewat milis yang didalamnya segudang pakar ekonomi syariah berkumpul dan sharing tentang pemecahan permasalahan yang ada.
Kiprah sulung dari tiga bersaudara kelahiran Medan ini di MES cukup lama. Sebelum diangkat menjadi Direktur Eksekutif, dia sempat diamanahi MES menangani Multi Media Head. Tugasnya adalah meningkatkan frekuensi diskusi di milis MES termasuk juga memperbaharui konten-konten di web MES. Ia juga membuat terobosan dengan menerbitkan Wikipedia.ekonomisyariah.org dan buku.ekonomisyariah.org . Walau hingga kini masih terkendala minimnya SDM tapi ia tetap optimis akan menggarap lebih serius lagi.
"Wikipedia merupakan jembatan sekaligus kamus beragam istilah ekonomi syariah bagi masyarakat luas yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu," kata Iqbal.
Ia mengklaim, kira-kira 100.000 ribuan orang per bulan yang telah mengakses situs MES dan sub situsnya. Hal ini, katanya, mengindikasikan tingginya keingin tahuan masyarakat kita tentang sistem yang sangat mengedepankan norma-norma kemanusiaan dalam program-programnya.
Untuk menjawab kehausan masyarakat akan ilmu ekonomi syariah, ke depannya MES akan menerbitkan semacam� buku ensiklopedi ekonomi syariah, "Rencananya tahun 2010 buku ini akan diterbitkan dalam beberpa jilid. Para pakar sudah diberikan tugasnya masing-masing. Tinggal di follow up saja," tambahnya.
Menurut Iqbal yang sudah empat tahun lebih bersama MES ini, tidak hanya masyarakat muslim saja yang sudah menikmati keberadaan ekonomi syariah, masyarakat kalangan non muslim pun kini sudah banyak yang mempercayakan dananya menggunakan sistem syariah. "Kata mereka sistem syariah lebih menentramkan," ungkap pria yang dalam kesibukannya masih menyempatkan membantu orangtuanya mengelolah sebuah toko mainan anak di kawasan Jakarta timur ini.
Ketika ditanya apa yang akan diwujudkan dengan berdirinya MES, Iqbal menegaskan salah satunya dalah agar tingkat kesadaran masyarakat Indonesia semakin tinggi untuk menerapkan dan menjadikan ekonomi syariah sebagai satu-satunya pilihan hidup dalam bermuamalah dan tidak lagi memandang system ini dengan kacamata yang sempit nan picik.
Ia mencontohnya, jika sistem syariah diterapkan secara utuh dan didukung penuh oleh masyarakat, seharusnya tidak akan ada lagi ribut-ribut soal bantuan langsung tunai yang sering diberitakan memicu konflik di masyarakat. "Islam sudah memberi solusi lewat zakat yang jika dikelolah secara professional dan cakap akan banyak membantu mengurangi angka kemiskinan dan kesenjangan antara si kaya dan si miskin," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar